Diskusi BBM KAMMI,
Pengamat: Ada Prasyarat Jika Harga BBM Dinaikkan
JAKARTA—Serial
diskusi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mengawal 100 hari
pertama pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-M. Jusuf Kalla (JK) kembali digelar pada
Sabtu (8/11/2014) di Sekretariat Pengurus Pusat KAMMI, Matraman, Jakarta. Tema
“Menyikapi Isu Kerakyatan: Kenaikan Harga BBM di Era Jokowi-JK” menjadi pokok
diskusi. Sedangkan dosen pascasarjana sekaligus pengamat ekonomi Universitas
Paramadia Dr.Handi Risza Idris, SE, MEc didapuk sebagai pemantik dalam diskusi
tersebut.
Pada awal penyampaian uraian, Handi
menyoroti mengajak peserta diskusi memahami ihwal relasi APBN dan subsidi BBM.
“APBN adalah ujung tombak realisasi
banyak kebijakan pemerintah. Subsidi BBM termasuk di dalamnya. APBN juga
menjadi gambaran sehat atau tidaknya sistem keuangan suatu negara,” kata Handi.
Kemudian, Handi mengaku secara teoritis
tidak salah jika pemerintah menaikkan harga BBM demi menstabilkan APBN. Dirinya
menyebutkan data, bahwa 70% APBN yang digunakan untuk belanja pemerintah pusat terdapat
sekitar 15%-nya untuk subsidi BBM.
Terlebih lagi, lanjut Handi, konsumsi
BBM kita lebih besar daripada produksi sebagai fakta yang tak bisa dibantah.
“Namun demikian, ada prasyarat yang
mesti dipenuhi pemerintah sebelum menaikkan harga BBM. Salah satu yang krusial
ialah pembatasan jumlah BBM bersubsidi tiap tahunnya,” terangnya, ”hal ini
merupakan salah satu ruh UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.”
Sayangnya, tambahnya, pemerintah sejak
2009 hingga sekarang tidak pernah melakukan pembatasan BBM bersubsidi.
Hal itu diperparah lagi dengan berbagai
kebijakan terkait pengontrolan efisiensi dan efektivitas penggunaan BBM
bersubsidi yang gagal dieksekusi.
“Data menunjukkan BBM bersubsidi justru lebih banyak dinikmati kendaraan
pribadi roda empat di Pulau Jawa,” tukasnya.
Oleh karena itu, Handi mengusulkan agar
pemeritah tidak terburu-buru menaikkan harga BBM.
Selain itu, dirinya juga mengimbau pemerintah
untuk melakukan upaya lebih (extra effort)
dalam pengelolaan energi dalam negeri.
“Pengelolaan energi alternatif dari bumi
Indonesia yang kaya memang bukan pekerjaan satu atau dua tahun. Perlu terus
dilakukan research and development.
Barangkali kita bisa mencontoh Brasil yang sukses melakukan terobosan dalam
bidang energi,” tukasnya.
Di akhir diskusi, Handi berharap
Pertamina lebih disehatkan lagi perannya sebagai national oil company di Indonesia yang bertugas menjadi legulator
sekaligus operator dalam pengelolaan energi minyak bumi.
Sementara itu, Ketua Umum PP KAMMI
Andriyana sebelumnya pernah menyampaikan, sebaiknya Jokowi-JK lebih fokus
menepati janjinya untuk mengurangi beban APBN dengan berhemat dan membereskan
perkara korupsi, terutama di bidang migas.
(Nur
Afilin, Humas PP KAMMI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar